Jakarta (KABARIN) -
Menemani remaja menghadapi arus tren dan popularitas tidak cukup dengan aturan keras. Kuncinya ada pada hubungan emosional yang nyaman dan komunikasi yang bikin mereka merasa aman.
Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Shabrin Risti Aulia, M.Psi., menilai peran orang dewasa seperti orang tua, guru, atau pendamping sangat penting dalam membuka ruang dialog yang jujur dengan remaja.
“Jika komunikasi terjalin dengan aman, akan lebih mudah mendiskusikan tren-tren yang berisiko,” ujar Shabrin.
Menurut dia, langkah awal yang bisa dilakukan adalah memahami dulu kebutuhan remaja. Keinginan untuk diterima teman atau rasa penasaran mencoba hal baru adalah hal yang wajar.
Dari situ, diskusi bisa diarahkan ke dampak yang mungkin muncul, baik dalam waktu dekat maupun jangka panjang, tanpa membuat remaja merasa dihakimi.
Pendapat serupa disampaikan Psikolog dari Cakra Medika, Ayu S. Sadewo, S. Psi. Ia menyarankan agar orang dewasa tidak langsung bereaksi dengan larangan saat menghadapi tren yang sedang digandrungi remaja.
“Jangan langsung pake larangan, karena itu justru membuat mereka jadi tidak terbuka dan defensif. Mulailah tanpa judgement. Penasaran dan diskusi saja: ‘Iya ya, itu lagi happening banget. Itu apa sih? Apa bagusnya? Risikonya apa? Dampaknya apa buat kesehatan, relasi, sekolah?’” ujarnya.
Ayu menegaskan setiap remaja punya cara berbeda dalam merespons tren. Karena itu, yang terpenting adalah menciptakan obrolan dua arah, bukan memberi cap benar atau salah sejak awal.
Shabrin juga menambahkan pentingnya membekali remaja dengan kemampuan menghadapi tekanan dari lingkungan. Salah satunya dengan mengajarkan cara menolak ajakan ikut tren tertentu tanpa harus merusak pertemanan.
Pendekatan seperti ini membantu remaja belajar berpikir kritis, mengenali risiko, dan mengelola emosi. Dengan begitu, tren dan popularitas tetap bisa disikapi secara sehat dan tidak mengganggu proses tumbuh kembang mereka.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026